Kota Magelang – Di era perkembangan zaman seperti saat ini, perundungan atau bullying menjadi masalah yang semakin terasa. Dengan kemajuan teknologi, terutama media sosial, perundungan tidak lagi terbatas hanya pada interaksi di dunia nyata, tetapi juga merambah ke dunia maya. Fenomena ini semakin meluas, dengan dampak yang lebih berbahaya karena banyak korban yang merasa terisolasi dan tidak memiliki tempat untuk melarikan diri.
Hal ini terjadi dengan sangat cepat dan tersebar luas, membuat dampak emosional yang ditimbulkan jauh lebih besar dibandingkan dengan perundungan yang terjadi di dunia nyata. Seperti yang terjadi pada seorang siswi di Jakarta Pusat yang tak bersekolah selama 2 bulan karena menjadi korban perundungan. Dilain tempat, tepatnya di Blitar karena gara-gara mengikuti akun instagram pacar salah satu terduga pelaku, seorang siswi menjadi korban perundungan.
Dengan adanya masalah yang terjadi dan begitu kompleks, SMP Negeri 12 Magelang merasa prihatin melihat kondisi generasi muda saat ini. Generasi muda sejatinya adalah aset penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, di mana Indonesia diharapkan menjadi negara maju dengan kemajuan ekonomi, sosial, dan teknologi yang signifikan. Namun, tantangan besar yang dihadapi oleh mereka salah satunya adalah perundungan yang dapat menghambat potensi mereka untuk berkembang secara optimal.
Sebagai bagian dari dunia pendidikan, SMP Negeri 12 Magelang menyadari betul bahwa untuk mencapai Indonesia Emas, diharus mempersiapkan generasi muda dengan karakter yang kuat, kreativitas tinggi, serta pemahaman yang baik akan pentingnya saling menghargai dan bekerja sama. Sekolah ini tidak hanya berfokus pada pengajaran akademis, tetapi juga pada pengembangan nilai-nilai moral, sikap positif, dan kecerdasan emosional yang diperlukan agar para siswa dapat menghadapi berbagai tantangan dengan bijak.
Pendidikan karakter dan pembinaan mental yang dilakukan di SMP Negeri 12 Magelang bertujuan untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya rasa empati, tolong-menolong, serta menjauhi segala bentuk perundungan. SMP Negeri 12 Magelang hadir dengan program inovasi sekolah bernama ANDALAS atau Agen Perubahan Spenadalas.
Agen perubahan ini merupakan sebuah agen individu atau kelompok yang berperan aktif dalam mendorong dan memfasilitasi perubahan dalam suatu masyarakat, organisasi, atau sistem. Mereka memiliki peran penting dalam menginspirasi, memotivasi, serta membantu orang lain untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, baik itu dalam konteks sosial, pendidikan, maupun profesional.
Inovasi ini merupakan tindak lanjut atas rangkaian kegiatan yang berdasar pada Kurikulum Merdeka Belajar episode 25 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan di satuan pendidikan. SMP Negeri 12 Magelang langsung bergerak cepat membentuk tim pencegahan dan penanganan kekerasan di SMP Negeri 12 Magelang. Tim tersebut terdiri dari peserta didik dari tiap kelas untuk selanjutnya mereka membuat serangkaian program dari berbagai narasumber dengan bimbingan fasilitator, sehingga sampailah pada puncak program agen perubahan yang diharapkan dapat menjadi contoh bagi teman-temannya. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah dengan melakukan penyuluhan dan seminar kepada siswa mengenai dampak perundungan dan pentingnya saling menghargai. Selain itu juga membentuk budaya sekolah yang mendukung keragaman, keterbukaan, dan saling menghargai dengan memberikan penghargaan kepada siswa yang menunjukkan sikap baik dan saling mendukung satu sama lain.
Terselenggaranya kegiatan anti perundungan tidak hanya seremonial. ANDALAS mengajak kepada civitas SMP Negeri 12 Magelang dan orangtua wali murid turut mensukseskan gerakan anti-perundungan agar tercipta kondisi yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi peserta didik, sehingga peserta didik dapat belajar dengan baik dalam situasi yang kondusif dan berprestasi baik dalam akademik maupun non akademik.
